Mengapa Saya Membangun Jejakku-Sebuah Kisah Perjalanan

“The world is a book, and those who do not travel read only a page.”

St. Augustine

Saya suka traveling. Melihat hal-hal baru, menjelajahi tempat-tempat baru, ataupun mencicipi makanan baru. Sejak SMP saya mulai menjelajahi pantai selatan, dan mulai mendaki gunung. Di setiap perjalanan, tidak semua berjalan mulus dan sesuai harapan. Kadang saya justru mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, entah itu ketinggalan kendaraan, tempat menginap yang kadang tidak sesuai harapan (kadang malah ngemper di terminal atau stasiun), ataupun merasakan kuliner yang ternyata tidak terlalu enak, sudah gitu dipalak pula.

Tapi dari pengalaman itulah saya belajar banyak hal.

Bagaimana mengatasi situasi sulit dan kepepet, dan bagaimana bisa bertahan hidup. Ya, saya hampir beberapa kali diambang maut saat naik gunung.

Dengan traveling, kita akan membuka cakrawala pemikiran. Kita akan bertemu banyak orang yang berbeda, dan mereka tentu saja memiliki pemikiran, ideologi, agama, dan kondisi yang berbeda dengan kita. Dengan traveling kita akan melihat wajah negeri ini yang sesungguhnya. Wajah negeri ini yang mungkin luput dari liputan media. Saat traveling inilah mata saya terbuka lebar dan menerima kenyataan bahwa masih ada banyak masalah di luar sana.

Indonesia Semakin Maju, Namun Kesenjangan Juga Semakin Lebar

Indonesia memang negara terbesar di ASEAN, dilihat dari jumlah penduduk maupun kekuatan ekonominya. Namun, majunya ekonomi ini hanya terpusat di kota-kota besar saja. Hampir 60% perputaran uang di Indonesia hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya.

Ketika traveling ke daerah, saya menemui kenyataan tentang perekonomian yang tidak merata. Masyarakat di sekitar tempat wisata masih tertinggal ekonominya. Padahal potensi wisata di daerah mereka sangat besar. Ketika traveler datang ke daerah, yang masyarakat lokal lihat adalah kenyataan bahwa orang kota kaya-kaya.

Lebih parah lagi, banyak traveler yang tidak mau berinteraksi dengan masyarakat lokal. Seringkali mereka hanya datang dan pergi. Menginap di hotel mewah milik investor (yang celakanya juga orang luar daerah, atau bahkan luar negeri), makan di restoran, dan membeli jajanan di minimarket waralaba.

Masih tidak banyak traveler yang mau membeli kebutuhan mereka dari masyarakat lokal. Walaupun sebenarnya, itu bukan salah traveler sepenuhnya. Kesadaran wisata masyarakat lokal masih kurang, sehingga mereka belum paham akan hospitality , bagaimana memperlakukan tamu dengan baik, bagaimana pelayanan yang baik, atau bagaimana memberikan harga yang wajar.

Yang warga lokal tahu adalah, traveler yang datang kaya-kaya, maka ini adalah kesempatan emas mengambil untung, sedangkan traveler yang datang selalu menaruh curiga dan tidak percaya kepada orang lokal karena terbiasa ditipu. Tidak ada  trust, tidak ada ketulusan. Kesenjangan pun semakin besar. Cita-cita mereka pun berubah menjadi bagaimana bisa merantau ke kota dan menjadi kaya disana….

Saya Datang, Saya Lihat, Saya Rusak. Traveler Indonesia Yang Bermental Perusak

Pertama kali datang ke Semeru (bukan karena fil 5CM) saya membayangkan bahwa Semeru akan seindah apa yang ada di social media. Agak naif sebenarnya karena di gunung-gunung sebelumnya, mulai nampak kerusakan yang ditimbulkan oleh banyaknya pendaki. Tapi di Semeru saat itu berbeda. Kondisi di Semeru saat itu paling parah…

Ranu Kumbolo yang dijuluki surganya para pendaki Semeru, berubah menjadi neraka. Sampah menggunung. Banyak pendaki yang mencuci alat makan dicelupkan ke danau (padahal konon dulu bisa diminum, kayak iklan minyak goreng), dan kotoran manusia berserakan di sekitar danau.

Apa susahnya membawa sampah sendiri turun? Apa susahnya mengambil air, lalu mencuci piring di bawah pohon? Apa susahnya membuat lubang sebelum berak lalu menguburnya kembali?

Padahal sampah itu lebih ringan daripada sebelumnya ketika masih berisi makanan, padahal kalau mencuci piring di bawah pohon bisa ikut sedekah air kepada pohon, padahal kalau berak ditutup tanah bisa jadi pupuk! Kadang logika sederhana ini gagal dipahami oleh traveler gemes yang hanya peduli nampang di sosial media dan mendulang banyak like.

Masalah kerusakan ini tidak hanya terjadi di gunung. Di tempat wisata buatan, banyak fasilitas dirusak dan dicorat-coret. Di pantai, banyak sampah berserakan. Di laut, banyak terumbu karang mati karena terinjak.

Dunia travel adalah dunia paradoks. Datangnya banyak traveler akan membawa pundi-pundi uang, namun juga akan terjadi kerusakan. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa menciptakan dan menjaga keseimbangan

Indonesia Penuh Potensi Wisata, Namun Saking Banyaknya, Kita Sampai Bingung Mana Yang Harus Dikelola

Indonesia sangat kaya potensi wisata. Mulai dari alam, budaya, kuliner, sejarah, bahkan wisata buatan. Tapi anehnya, jumlah turis luar negeri yang datang ke Indonesia jauh lebih sedikit daripada Thailand, Malaysia, atau Singapura. Mungkin karena saking banyaknya, kita malah bingung sendiri dan akhirnya dibiarkan saja.

Padahal pariwisata jika dikelola dengan baik akan menjadi tambang kita selanjutnya, tambang yang bisa diambil manfaatnya tanpa harus merusak alam. Justru dengan majunya pengelolaan potensi wisata, kita akan tergerak untuk terus menjaga alamnya, menjaga keasriannya, menjaga fasilitasnya karena itulah daya tarik utama wisata kita.

Bukankah seharusnya masyarakat sekitar tempat wisata, di seluruh pelosok Indonesia, bisa lebih sejahtera jika potensi ini dimanfaatkan?

Bayangkan, dalam satu kali trip ke daerah, traveler membutuhkan kendaraan, penginapan, tempat makan, pemandu. Traveler bisa diajak juga merasakan aktivitas masyarakat lokal, entah bertani, menangkap ikan, mengolah makanan, berkebun dan lain sebagainya. Traveler bisa belajar sesuatu untuk kehidupan mereka, sedangkan ekonomi lokal ikut berputar. Kesenjangan pun akan semakin terkikis.

Terimakasih telah menggunakan rumah saya untuk menginap, uangnya bisa digunakan untuk sekolah anak saya…
-Pak Yanto, Pemilik Homestay di Banyuwangi-

Kenapa harus Jejakku ?

Jejakku, sebagai marketplace travel voluntourism, berusaha mengajak traveler untuk berkontribusi di setiap trip yang dilakukan melalui Challenge yang tersedia. Kontribusi yang dilakukan kadang hanya sederhana, misalkan melakukan aksi pungut sampah, donasi buku, ataupun membeli produk lokal.

Ada juga beberapa Challenge yang agak berat seperti tanam pohon, mengajar di sekolah terpencil, konservasi binatang, atau menanam terumbu karang. Jejakku juga bekerjasama dengan Komunitas di Indonesia, seperti 1000_guru dengan Traveling & Teaching, dan juga Trash Hero Indonesia dengan aksi bersih-bersih pantai yang melibatkan turis asing dan masyarakat lokal di sekitar tempat wisata.

Penghijauan Gunung Andong

Jejakku  mengajak Trip Organizer di Indonesia untuk menyediakan paket trip yang memberikan dampak sosial positif untuk masyarakat. Trip Organizer bisa mempromosikan paket trip mereka dengan gratis di Aplikasi ataupun website Jejakku. Dengan demikian, traveler akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran lebih dalam setiap perjalanan mereka, dan Trip Organizer akan memperoleh pasar yang lebih luas untuk menunjang bisnis mereka.

Awalnya saya ragu, apakah traveler mau diajak susah-susah berkontribusi? Bukannya mereka manya senang-senang? Tapi ternyata saya salah. Ketika pertama kali menantang traveler untuk memunguti sampah di Bromo, ternyata mereka mau melakukannya dengan sukarela! Bahkan ada beberapa traveler yang terharu, karena banyak warga lokal yang berterima kasih kepada mereka atas perbuatan kecil yang mereka lakukan.

Orang Indonesia bukannya tidak peduli,

Namun mereka seringkali menunggu digerakkan untuk melakukan aksi

Ini memang langkah kecil, namun saya bermimpi impact yang sekarang ada ini akan menjadi semakin besar, memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Jadi, siapkah kita untuk beraksi demi dunia yang lebih baik lagi?

 

Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.’
Mother Teresa

Share